Untitled Document
Login
Member Login
  Username :  
   
  Password :  
   
     
   
register now
Untitled Document
 
Rabu, 13 Desember 2017

LATAR BELAKANG

Sejak tahun 2002 atau sejak buku pertama Paulus Winarto yang berjudul FIRST STEP TO BE AN ENTREPRENEUR (Berani Mengambil Risiko Untuk Menjadi Kaya) terbit maka sejak saat itulah ia kerap mendapat undangan berbicara di berbagai forum di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari kampus, perusahaan, lembaga sosial keagamaan, lembaga pemerintahan, institusi militer, pondok pesantren hingga gereja interdenominasi.

Dari pengalaman berkeliling nusantara itulah, Paulus beserta dua orang associate trainer-nya (Sandy Triyasa dan Chandra Krisma Winata) menangkap ada satu kerinduan anak muda untuk diperlengkapi agar menjadi generasi muda yang efektif, bukan generasi rata-rata. Perkembangan dunia menyadarkan kita bahwa kecerdasan akademik semata tidaklah mencukupi untuk bersaing di era globalisasi. Itulah sebabnya kita kerap mendengar perlunya kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) sebagai pelengkap dari kecerdasan akademik (IQ).

Pernah suatu ketika, seorang dosen wali memberikan nasihat kepada mahasiswanya yang akan diwisuda. Perlu kamu sadari ada banyak sekali kriteria seleksi sarjana untuk terjun di dunia kerja. Misalnya ketrampilan berkomunikasi, kejujuran, kemampuan bekerja dalam sebuah tim, kemampuan berhubungan baik dengan orang lain, etos kerja, kemampuan analisis, engineering skills, motivasi diri yang kuat, kepercayaan pada diri sendiri, fleksibilitas, dsb. Sayangnya pendidikan di perguruan tinggi sampai saat ini lebih banyak menekankan pada kemampuan analisis dan engineering skill, kata sang dosen.

Sebuah penelitian yang dilakukan Harvard University membuktikan bahwa faktor pengetahuan dan ketrampilan (knowledge and skill) hanya memberikan kontribusi sebesar 15 persen bagi kesuksesan seseorang dalam hidup. Sisanya sebesar 85 persen ditentukan oleh faktor sikap (attitude). Tidak berlebihan jika ada yang mengatakan salah satu prinsip terpenting dalam manajemen sumber daya manusia adalah hire for attitude, train for skill. Artinya, dalam merekrut seorang karyawan yang paling penting adalah sikapnya. Jika sikapnya baik, ia bisa dilatih agar mahir dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, jika ia memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang luas namun sikapnya jelek, ia tidak akan pernah mampu berprestasi optimal, terutama jika bekerja dalam sebuah tim. Berlatang belakang kondisi di atas, kami kemudian tergerak untuk mendirikan HOT MINISTRY.

HOT MINISTRY adalah lembaga pelatihan non-profit yang didirikan oleh tiga anak muda di Bandung (Paulus Winarto, Sandy Triyasa dan Chandra Krisma Winata) pada peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda atau 28 Oktober 2008. Lembaga ini bertujuan untuk memberikan pelatihan-pelatihan soft skill guna memperlengkapi generasi muda di berbagai gereja lokal di tanah air (interdenominasi).

 

Modul-modul pelatihan yang diberikan meliputi motivasi diri, motivasi kerja, pengembangan diri, kepemimpinan, kerja tim, kewirausahaan, dan sebagainya. Dengan bersandar pada kemurahan hati Tuhan, diharapkan pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara berkala ini memampukan generasi muda menjadi garam dan terang bagi negeri ini (di marketplace). Artinya, pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan profesional yang handal dan entrepreneur muda yang membawa nilai-nilai kerajaan Allah.

Generasi muda yang dibidik untuk diperlengkapi dalam paket pelatihan HOT MINISTRY adalah mereka yang berusia 20 hingga 35 tahun atau usia mahasiswa tingkat akhir hingga usia profesional muda.

 

 

 
Untitled Document